Rianti Wulandani, srikandi dari Solo. Lulus dari Psikologi UGM angkatan 93. Dalam jangka dua tahun sejak bergabung dengan Property Plus, kini telah mempunyai enam lokasi di tiga kota: Magelang, Solo, dan Lumajang. Tahun ini, beliau menargetkan omset 100 miliar. Berikut petikan wawancara dengan beliau sesaat setelah mengisi seminar di Hotel Quality, Kamis, 12 Januari 2012.

Mba Ria, masalah terberat dalam pekerjaan sebagai developer, apa sih?
Kalau saya lebih ke … birokrasi perijinan. Karena nggak ada patokannya. Nggak ada ukurannya. “Sak-sake. Sak karep-karepe dhewe.” (seenaknya sendiri, red)
Solusinya? Sabarrrr?
Ya sabar saja. Ikuti saja maunya dia. Yang penting kita nggak rugi.
Developer umumnya pria. Ada nggak kendala menjadi seorang developer wanita?
Kendala … nggak ada. Karena saya separo laki-laki, separo perempuan, ha ha haaa … Semua itu tergantung kita. Justru mereka sangat menghargai, sangat menghormati, dan respect kepada kita, karena kita makhluk langka, kan? Di sisi lain, saya tidak menunjukkan sikap yang cenderung aneh. Mungkin kalau di majalah itu, (Majalah Property Plus, red) saya disebut tegas, bahkan Pak Bambang (Bambang Ifnuruddin, red) menjuluki saya Mbok Galak. Becanda ya becanda, tapi kalo dalam konteks pekerjaan harus tegas. Melecehkan atau tidak tergantung cara kita membawa diri. Justru mereka malah salut!
Owalah Mbok Galaaak … Mbok Galak … untung bukan Mbok Jamu, hehehe. Terus, gimana dukungan keluarga & suami? Anak-anak sering ditinggal donk?
Alhamdulillah, hampir lima belas tahun berumah tangga, belum dikaruniai momongan. Tapi saya melihat sisi positifnya. Hikmahnya, begini. Tuhan tahu, passion saya adalah bekerja. Saya orang yang mungkin orang bilang, ambisius. Saya suka memperbaiki diri, selalu upgrade lagi, upgrade lagi. Suami sangat memahami juga. Luar biasa! Saya belum dikaruniai momongan bukan karena Allah tidak sayang sama saya. Justru sebaliknya. Allah sangat sayang sama saya. Saya diberi kesempatan seluas-luasnya dulu untuk memuaskan hasrat bekerja. Saya yakin, nanti di saat yang tepat, saya pasti diberi momongan. Tentang membagi pekerjaan dengan urusan rumah tangga, alhamdulillah suami bekerja di bidang yang sama, mengerjakan proyek bersama-sama. Jadi selalu ada waktu untuk bersama.
Mungkin kita ingat pada sosok Ibu Martha Tilaar yang baru dikarunia anak di usia 39 tahun, setelah bisnisnya sukses. Jika Martha Tilaar dikarunia anak usia 25, mungkin tidak ada seorang Martha Tilaar seperti yang sekarang. Tuhan memang paling tahu akan hamba-Nya.
Nah, rata-rata pebisnis masuk ke dunia developer sudah punya bisnis yang mapan. Mereka menggunakan jejaring bisnis ya dari jejaring bisnis sebelumnya. Nah, gimana kalau benar-benar mulai dari nol?
Saya mulai dari nol. Karena, kalaupun saya punya perusahaan, itu di Solo, sementara saya memulai proyek pertama di Magelang. Siapa yang saya kenal? Nggak ada! Birokrasi di Magelang saya nggak kenal, orang-orangnya saya nggak kenal, karakter kotanya saya nggak kenal, karakter penduduk saya nggak kenal. Saya benar-benar nol. Sekarang lihat, saya punya lokasi di Lumajang. Pas buka lokasi ini, saya kenal siapa? Nggak ada. Prinsipnya, udah, datang saja. Jalan saja! Buka saja di sana! Selama niat kita baik, insyaAllah akan selalu ada pertolongan Allah.
Kereeen. Prinsipnya, action! Emmm … ada pendapat kalau ... Ah, saya di marketing aja. Daripada jadi developer, ribet. Gimana menurut pendapat Mbak Ria?
Semua itu pilihan. Kita tidak bisa bicara baik-buruk. Lebih baik yang mana? Lebih bagus yang mana? Nggak bisa. Bagi saya, semua pilihan ada konsekuensinya. Kita pilih berumah tangga ada konsekuensinya. Kita pilih melajang ada konsekuensinya. Kita pilih jadi developer ada konsekuensinya. Kita pilih jadi marketing ada konsekuensinya Semua itu kembali ke diri kita sendiri, kapasitas kita ada di mana. Kita nyaman di mana. Selama kita nyaman, kita akan menjalaninya dengan gembira. Kalau jiwa marketing dipaksa jadi developer, malah nggak nyaman. Saya, terus terang, saya nggak suka kalau disuruh nawar-nawarin. Karakter saya bukan orang yang sabar. Saya malah mendidik mereka, begini, begini, begini. Kalau sekali dua kali jualan, okelah. Tapi nek saben dino aku kongkon (kalau tiap hari disuruh) jualan, waduuh …!
Siapa sih, tokoh pengusaha properti idola Mbak Ria? Ciputra, atau, Melani Lowas, atau mungkin … Pak Bambang?
Eemmm … sejauh ini sih, nggak ada yang saya idolakan. Tapi ketika membaca buku Ciputra Way dan tahu lebih jauh tentang Ciputra, saya sangat respect. Beliau sangat visioner, sangat sederhana, dan berjiwa sosial. Saya juga sangat hormat dan respect terhadap Pak Bambang. Saya banyak belajar dari beliau. Apapun judulnya, saya besar juga karena beliau. Ilmu-ilmu saya dapatkan dari beliau. Saya dipercaya orang juga karena beliau. Mungkin kalau tidak memakai baju Property Plus, kepercayaan orang terhadap saya tidak seperti sekarang ini.
Kalau boleh tahu, apa impian Mbak Ria ke depan, pengin bikin kota mandiri, atau perumahan sepuluh ribu hektar, atau apa?
Impian saya … nggak muluk-muluk saya sebenarnya ingin … emmm …
(terdiam sesaat lama).
Saya ingin… omset tahun ini harus 100 miliar.
Itu target ya?
Emmm … kalau bicara impian … ingin menjadi … istilahnya … ratunya properti. Karena selama ini kan yang dikenal hanya raja properti.
Menjadi Ciputri?
Yaaah … begitulah hahahaa … Tapi sesungguhnya, dibalik itu, saya ingin membawa manfaaat pada banyak orang. Menjadi developer itu kendaraan saja supaya kita bisa lebih bermanfaat buat orang lain. Karena, dengan berbagi seperti ini, kalau kemudian banyak orang terinspirasi, termotivasi, lalu sukses, pahala saya kan terus mengalir. Saya diberi banyak kesempatan, karena itu saya harus memperbanyak amal-amal jariyah dengan ilmu yg kita punya.
Pesan untuk perempuan Indonesia?
Jadilah perempuan yang tangguh dan berpikir besar. Karena saya mempelajari kekuatan pikiran. Kalau kita berpikir besar, kita akan menjadi besar. Perempuan itu mungkin tidak jadi besar karena dia punya ketakutan-ketakutan. Buang ketakutan itu!
Jadi, misalnya, saya tidak punya modal, tidak punya jaringan, tidak punya apa-apa, action aja?
Action aja! Modal kita bukan duit, kok. Lihat apa kelebihan kita. Saya punya kelebihan dalam hal berhubungan dengan orang. Oh ternyata, saya gampang bergaul. Lihat saja, orang-orang yang … hanya karena gampang bergaul dan ia juga amanah, meski tanpa modal duit, akhirnya bisa seperti sekarang. Kuncinya adalah pikiran. Pikiran ini bersihkan! Pakai kekuatan pikiran! Buang pikiran … nanti kalau saya modal … nanti kalau … Buang! Ekplor apa kelebihan yang kita punya. Maanfaatkan kendaraan yang ada.
Hayooo siapa yang pikirannya ngeres? Segera bersihkan, hehehe! Maksudnya bersihkan dari virus takut dan pesimis.
Kendaraan? Property Plus forever!
Emmm … pengin tahu, nih, perumahan apa saja yang udah dibangun Mbak Ria?
Sebetulnya, saya tidak suka terlalu terekspos. Kemarin saya bikin konferensi pers untuk town house terbaru di Solo, tidak perlu PT saya diekspos. Yang diekspos adalah property agency. Orang nggak perlu tahu, oh, ternyata perumahan itu punya Ria to, oh ternyata punya Ria.
Kalau di Lumajang, yang saya kedepankan, itu loh, punyanya Mas Imam. Beliau partner lokal saya, dulunya murid saya, di workshop Surabaya. Beliau nawarin tanah ke saya, lalu bilang boleh nggak saya ikut belajar. Meskipun proyek itu PT saya, marketing saya, tapi ketika di sana, saya menghormatinya. Biarlah orang tahunya beliau. Toh, pada akhirnya, trust masyarakat terhadap proyek ini besar, karena karakter orang ini baik. Daripada, ini loh, punya saya. Orang akan tanya, lah siapa Rianti di Lumajang? Nggak ada yang kenal. Kadang-kadang kita tidak perlu menonjolkan diri. Kita berada di belakang bukan berarti tidak mendapatkan manfaat dari itu. Itu yang orang suka salah. Kita harus bisa mengelola hal-hal seperti itu.
Berarti tahu hal-hal seperti itu setelah di lapangan ya?
Saya learning by doing. Akhirnya “digothak-gathukke dhewe". Diurut-urutkan sendiri. Oh, gini gini gini. Oh, ternyata proses ini bisa saya persingkat waktunya. Dsb.
Tentang cerita dapet tanah gratis itu gimana, Mbak?
(gratis maksudnya tanpa DP, red)
Jadi gini, sering kita ketika mendapat sesuatu yang kurang cocok, kita melihatnya sebagai sesuatu yang kurang baik. Padahal mungkin ada hal besar di baliknya. Ceritanya, saya dapet lokasi 600 m2 yang premium itu bahkan tanpa duit sama sekali kan asal muasalnya saya dikenalkan dengan Mas Adi namanya. Mas Adi ini punya PR menjualkan tanah mertuanya di Sragen. Dia menemui saya. Saya bilang, yah coba kita lihat. Ternyata tanah itu tidak mungkin untuk dibikin perumahan. Sebetulnya semua itu mungkin, cuma, cost-nya terlalu besar. Mas, ini bisa, tapi tetep kita carikan solusi, nanti kita buat apa ya? Kata saya.
Kalau kita lihat, ini adalah sesuatu yang “tidak mengenakkan”. Saat yang sama, Allah mengganti, dengan lokasi lain. Ketika dalam perjalanan pulang, Mas Adi cerita, ”Oh ya Bu, Bapak saya punya tanah yang mau dijual tapi masih ada gedung badmintonnya. Mau dilihat nggak?”
"Ya ayo aja. Ngeliat juga nggak bayar, kan?" respons saya. Ketika dilihat, radar saya langsung … tuiiiink....! Saat itu, saya langsung bilang dalam hati, wah, bagus niih … Meski ada bangunannya, kita bisa robohin. Saat itu, saya nggak bilang tertarik atau apa. Saya cuma tahu tanah ini mau dijual. Saya diem aja. Sampai rumah, saya buka laptop, saya hitung. Lalu saya komunikasi lagi dengan Mas Adi. Kebetulan, Mas Adi memang ingin belajar. Tadinya, maksudnya Mas Adi, jika tanah Sragen tadi memang memungkinkan, mau dia tutup ke mertuanya, nanti tinggal urusan dia dengan saya. Dia sekalian bisa belajar. Tapi, tanah Sragen itu memang tidak bisa dikerjakan. Sebagai gantinya, yah, karena kita udah capek-capek berusaha cari solusi. Saat itu juga, tanpa sengaja, Tuhan memberi hadiah.
Saya curi start. Saya hitung, kira-kira nanti akan jadi seperti apa. Saya sabar aja, tapi punya keyakinan. Selalu punya feeling, itu pasti saya kerjakan. Saya pede aja, sudah mulai sounding ke perbankan, udah mulai sounding ke mana-mana. Jadi, begitu deal beberapa bulan kemudian, saya tinggal jualan. Tanda tangannya baru satu setengah bulan ini, tapi saya sudah persiapkan dari sekian bulan yang lalu.
Itulah, tak ada sesuatu yang sia-sia. Jadikan diri kita solusi bagi orang lain, maka Tuhan akan membalas, cepat atau lambat.
Nah, kalau sebagai pemula, apa yang pertama harus dilakukan? Atau saya jalan sendiri saja tanpa tahu apa-apa?
Pertama, cari tahu dulu ilmunya, entah itu dengan pelatihan, atau dengan cara … mepetin / bertanya terus. Itu kan, sama dengan belajar. Saya nggak pernah ikut pelatihan tapi saya mepet Pak Bambang terus. Ke mana pun beliau pergi saya ikut, selama berbulan-bulan. Sekarang ini pun saya masih terus belajar. Karena ini nggak berhenti. Kasus setiap lokasi selalu berbeda-beda.
Saya mengabdi di Property Plus ini karena saya merasa dibesarkan di sini. Baru dua tahun bergabung tapi percepatannya luar biasa. Dalam jangka waktu itu, bisa punya enam lokasi baru. Saya dipercaya tadinya mentor/pengajar lalu naik kelas jadi pengisi seminar. Itu berarti, saya mendapat kepercayaan yang luar biasa. Saya capek-capek nggak dibayar, saya ikhlas, karena saya merasa dibesarkan oleh Property Plus.
Kadang-kadang, orang itu terlalu perhitungan. Padahal, manfaat itu kan, tidak harus uang. Nanti, pada akhirnya, kan jadi uang juga. Saya nginthil (ngikutin) Pak Bambang ke mana-mana ya ta' pesawatin sendiri, hotel sendiri. Tapi akhirnya apa, dengan saya dikirim ke mana-mana, suruh ngajarin ke mana-mana, jadilah personal branding. Orang kalau mau personal branding itu mahal, lho! Dengan saya melakunan ini, trust orang terhadap saya meningkat. Akhirnya, kalau orang susah cari tanah, saya mblokek-mblokek nolak tanah … hahaha … karena … aduh … yang lokasi ini belum tertangani, yang lokasi itu belum tertangani …
Kadang orang itu terlalu perhitungan. Kalau saya melakukan ini saya dapet apa. Coba, kasih dulu! Meski nanti kembalinya bukan dari dia dari yang lain, sing penting rak balik to?
Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Sebetulnya, masih banyak yang ingin kita gali lebih jauh tentang sosok Mbok Galak satu ini. Tapi, beliau sudah lelah pastinya, setelah beraktivitas sejak pagi tanpa henti. Lihat, perempuan saja bisa! Pasti semua pun bisa! Yukz, kita doakan saja semoga tercapai semua impian beliau. Karena doa seperti cermin, akan memantul kembali pada yang mendoakan.
Bahwasanya, doa dan takdir bertemu dan bertarung di langit. Maka, berjuanglah, tentukan takdir kita sendiri! Setapak demi setapak kita melangkah, hingga impian itu pun tergenggam di tangan. Aamiin …
Tim Property Plus Indonesia.




